Hujan yang turun malam ini menjadi suara ramai yang terdengar ditelingaku. Tidak ada aktivitas lain yang ada di sekitar rumahku meski rumahku terletak dipinggir jalan raya.
Hanya suara hujan yang menemaniku saat itu. Aku termenung dengan sebuah pikiran yang mungkin bagi sebagian orang tidak pernah dirisaukan. Tapi bagiku hal ini membuat aku menjadi terus memikirkannya. Aku pun harus segera mencari jawaban agar hal ini tidak berlarut-larut hinggap diotakku.
Akhirnya percakapan batin pun terjadi dalam diriku...
"Besok, saya sudah wisuda... Terus aku mau melanjutkan kemana? Jurusan kuliah ini bukan pilihanku melainkan pilihan orang tuaku sehingga kalau saya mau melanjutkan kuliah nanti pasti bertentangan dengan batin. Seandainya saya langsung kerja, saya harus kerja sesuai dengan ijazah saya. Huh... pilihan yang berat." Batinku
Suara dan kilatan petir membuat aku terhenyak sesaat yang menandakan betapa derasnya hujan yang turun malam itu. Aku menatap jam dinding, menunjukkan sudah tengah malam, biasanya aku sudah tertidur tapi ini aku seperti seorang insomnia yang sulit sekali untuk bisa tidur.
Padahal pagi hari aku harus sudah siap untuk pergi ke acara wisudaku bersama keluarga. Seharusnya aku bahagia tapi aku terlalu sibuk melayani pikiran-pikiran yang terbesit diotakku agar aku bisa menjawab semua pertanyaan itu.
Aku pun mencoba menenangkan diriku...
"Ya... aku harus mencoba meyakinkan bapak ibu kalau aku itu lebih suka ke desainer daripada harus tetap di jurusan pertambangan. Toh, aku sudah dewasa dimana aku sudah bisa menentukan mana yang terbaik bagiku. Dan aku akan buktikan bahwa aku pun bisa sukses sebagai seorang desainer."
Diam-diam memang semasa kuliah aku sering membuat sendiri berbagai macam rancangan baju. Tetapi aku belum berani untuk memasarkannya sehingga hanya untuk aku pakai sendiri.
Dan aku senang sekali merancang desain...
Dulu ketika aku memilih jurusan pertambangan itu adalah inisiatif dari bapakku yang memang seorang pegawai negeri. Jadi tahu sekali mana pekerjaan yang prospek untuk anaknya kelak.
Aku pun hanya mengiyakannya saja, karena sebagai seorang lulusan Sekolah Menengah Kejuruan pasti tidak punya gambaran kemana nantinya. Sehingga hanya bergantung pada orang tua yang mungkin secara pengalaman jauh diatas kita.
Itulah yang kembali aku rasakan sekarang... Dan sekarang aku ingin mencoba membuat keputusan sendiri. Walaupun aku harus siap dengan sikap yang akan ditunjukkan oleh orang tuaku yang keras, kaku dan cenderung memaksa.
Tapi batinku merasa lain. Bukan di Pertambangan tapi di Desainer... ya desainer...
Memang sayang, kalau harus membiarkan ijazah hanya di simpan di lemari. Tapi jiwaku bukan disitu. Memang aku juga berhasil disitu karena bisa selesai sampai mendapat predikat sarjana, tapi itu hanya untuk membuat bahagia orang tua saja bukan gairah aku disitu.
Sehingga aku harus ambil keputusan... Dan harus berani mengambil resiko.
Hujan pun semakin mereda malam itu. Aku pun juga sudah menemukan jawaban dan harus melakukan apa selanjutnya.
Akhirnya aku pun tarik selimut dan mulai memejamkan mata agar besok bisa fresh mengikuti acara wisuda.
"Acara Wisuda ya... alangkah bahagianya... acara besok harus meriah dan ramai. Sekali seumur hidup lho. Kalaupun ada pasti beda suasananya..." batinku
"Yaudah... tidur... tidur... tidur"
Hari semakin malam hujan masih rintik rintik turun membasahi bumi dan aku pun mulai terlelap.
Sejuta harapan menggunung dalam benakku. Wisuda memang membahagiakan karena menandakan pelajaran dikampus sudah selesai. Itulah saatnya untuk memulai pelajaran di kampus kehidupan. Kampus yang penuh tantangan dan perjuangan. Dan acara wisudanya hanya ketika kita di alam akherat nanti, itu pun dilakukan hanya sekali. Apakah lulus ujian dan masuk kita masuk surga atau tidak dan harus masuk neraka.
Sungguh perjalanan hidup yang harus kita lalui.

EmoticonEmoticon